Deskripsi Tanaman dan Simplisia
Tanaman: Andrographis paniculata Nees merupakan herba dengan tinggi 40 - 90 cm, bercabang banyak dengan letak cabang saling berlawanan. Daun tunggal berbentuk bulat telur terletak bersilang
berhadapan, pangkal dan ujung daun runcing dan tepi rata. Bunga majemuk berbentuk tandan,
terletak di ketiak daun dan ujung batang. Kelopak bunga berbentuk lanset, beijumlah lima dengan
pangkal berlekatan, berwarna hijau. Buah berbentuk kotak,
berujung runcing,
bagian tengah
bersalur, buah muda berwarna hijau dan setelah tua berwarna hitam. Biji berukuran kecil berwarna hitam,
pada
waktu muda
berwarna
putih kotor dan
setelah tua
berwarna
cokelat. Simplisia:
Andrographidis Paniculatae Herba adalah bagian di atas tanah dari tanaman Andrographis paniculata
Nees. Simplisia tidak berbau, rasa sangat pahit. Batang tidak berambut, persegi empat, batang
bagian atas seringkali dengan sudut agak berusuk. Daun bersilang berhadapan, umumnya terlepas dari batang, bentuk lanset sampai bentuk lidah tombak. Permukaan atas berwarna hijau tua atau hijau kecoklatan, permukaan
bawah
berwarna hijau pucat. Permukaan
kulit luar buah
berwarna hijau tua
sampai hijau kecoklatan.
Habitat
Tumbuh liar di tempat terbuka, seperti di kebun, tepi sungai, tanah kosong yang agak lembab, atau
di
pekarangan.
Tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian 700 m dpi. Seringkali tumbuh
berkelompok. Tanaman ini tumbuh di daerah panas di daerah Asia dengan iklim
tropik dan sub tropik seperti di India, semenanjung Malaya dan Indonesia.2)
Sinonim
Andrographis susspathulata C.B. Clarke., Justicia paniculata Burm.f., Justicia stricta Lamk., Justicia latebrosa
Russ.2)
Nama Daerah
Sumatera: Pepaitan, ampadu (Melayu); Jawa: Ki oray, ki peurat, takilo (Sunda); bidara, sadilata, sambilata, sambiloto, takila (Jawa).
Nama Asing
Bidara
(Malaysia), fathalaicon (Thailand), king of bitters (Inggris), kirata, mahatitka (India), chuan xin lian, yi jian xi, lan he lian (China).1,2)
Kandungan Kimia
Akar mengandung andrografin,
andrografolida, apigenin
7,4’-dimetil eter, 5-hidroksi-2,3,7,8- tetrametoksiflavon, (dl)-5-hidroksi-7,8,dimetoksiflavon, 5-hidroksi-dimetoksimono-O-metilwightin, panikolin- a-sitosterol, 2’,5-dihidroksi-7,8-dimetoksiflavon-2’-0-a-(D)-glukosida, 3a-hidroksi-5- stigmasta-9(ll),22(23)-diena, glukosida flavanon, andrografidin B, C, D, E dan F. Batang mengandung
andrografisida,
andrografolida, deoksiandrografisida,
14-deoksi-andrografisida, 14- deoksiandrografolida, 14-deoksi-ll,12-didehidroandrografolida, 3,4-dideoksiandrografolida, neoandrografolida.
Seluruh bagian tanaman mengandung andrografolida, 2-cis-6-trans famesol, 14-deoksiandrografolida,
11,12-didehidro-14-deoksiandrografolida,
neoandrografolida,
2-trans-6-trans farnesol, deoxyandrografolida-l 9 S-D-glukosida, 14-deoksi-ll-
dehidroandografolida, 14-deoksi-ll-oksoandrografolida,
5-hidroksi-7,8,2,v3,-tetra-metoksiflavon, panikulida-A, panikulida-B, panikulida-C. Daun
mengandung
andrografolida, asam kafeat,
asam klorogenat, dehidroandrografolida,deoksiandrografolida,deoksiandrografolida-19-a-D-glukopiranosida,
14-deoksi-l 1,12-didehidroandrografolida,
3,5-dikafeoil-d- asam kuinat, neoandrografolida, ninandrografolida, panikulida A, B, C.
Efek Farmakologi
Pemberian secara intragastrik ekstrak etanol herba sambiloto (dosis 500 mg/kg BB) pada tikus yang diinduksi demam oleh ragi memiliki
aktivitas antipiretik.
Aktivitas ini sama efektifnya dengan
pemberian aspirin dosis 200
mg/kg BB
dan tidak
ada efek toksik yang
terlihat
sampai dosis pemberian 600 mg/kg BB. Pemberian
andrografolida secara intragastrik (dosis 100 mg/kg BB) pada tikus yang diinduksi demam oleh ragi juga memiliki aktivitas antipiretik.
Aktivitas ini juga
ditunjukkan
pada
pemberian deoksiandrografolida, andrografolida, neoandrografolida atau ll,12,didehidro-14-deoksiandrografolida dosis 100 mg/kg BB pada mencit,
tikus, atau kelinci yang terinduksi demam oleh 2,4-dinitrifenol atau endotoksin.
Indikasi
Membantu meredakan demam Kontraindikasi
Ibu hamil,
ibu
menyusui
dan penderita
yang alergi terhadap
tanaman
Acanthaceae
dilarang menggunakan herba ini.
Peringatan
Dapat menimbulkan reaksi anafilaksis.
Efek yang Tidak Diinginkan
Penggunaan dosis tinggi dapat menyebabkan perut tidak enak, muntah, mual dan kehilangan selera makan karena rasa pahit dari andrographolide, sedangkan pada wanita dapat menyebabkan efek
antifertilitas. Pernah dilaporkan dapat menimbulkan gatal-gatal (kaligata / urtikaria) dan bengkak
pada
mata setelah minum rebusan sambiloto.
Interaksi
Hindari penggunaan jangka panjang bersamaan dengan obat
imunosupresan.6) Hati-hati pada pasien kardiovaskular, jika mengkonsumsi bersamaan dengan
obat antiplatelet atau antikoagulan
karena sambiloto dapat menghambat agregasi platelet.^ Penggunaan herba sambiloto dalam kombinasi dengan daun salam menurut data etnofarmakologi dapat memberikan hasil
lebih baik berupa penurunan kadar gula darah yang lebih stabil.
Toksisitas
LD50 andrographolide dan turunannya adalah 13,4 g/kg untuk pemberian
oral sedangkan ekstrak
sambiloto mengandung ± 4% andrographolide sehingga dapat disimpulkan LD50 ekstrak
sambiloto adalah 335 g/kg.
Hasil uji aktivitas SGOT, SGPT dan kadar kreatinin pada serum hewan uji setelah pemberian selama
dua bulan
dengan dosis sampai 5 x dosis lazim tidak menunjukkan adanya perbedaan
bermakna. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak uji tidak memiliki toksisitas
sub kronik terhadap fungsi hati dan
ginjal hewan uji. Uji pengaruh teratogenik terhadap mencit tidak menunjukkan adanya kelainan morfologi janin mencit sampai dengan dosis lima kali dosis lazim.8) Pada kelinci yang diberikan andrografolida i.v (10 mg/kg
BB), tidak ada kelainan kardiovaskular.9) Pada
tes yang lain, tikus atau kelinci diberikan
1 g/kg BB andrographolide atau neoandrografolida secara oral selama 7 hari, tidak menimbulkan kelainan pada organ tubuh.
Penyiapan dan Dosis
Sambiloto segar sebanyak 10 -15 g direbus dengan 2 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Dinginkan, saring, tambah madu secukupnya, minum sekaligus. Lakukan 3 kali sehari.12)
Penyimpanan
Disimpan di tempat
yang
terlindung dari cahaya
dan
wadah tertutup rapat.
Daftar Pustaka
1. Anonim, 1979, Materia Medika Indonesia, Jilid III, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, 20-25.
2. Direktorat Obat Asli Indonesia, 2007, Acuan Sediaan Herbal, Volume Kedua, Badan Pengawas Obat
dan Makanan, Jakarta, 115-120.
3.
Anonim,
2002, WHO
Monographs on
Selected Medicinal Plants, Volume
2,
World Health
Organization, Geneva, 12-24.
4. Anonim, 1993, Standard o f Asean Herbal Medicine, Asean Countries, Jakarta, Indonesia, 36-38.
5. Anonim, 2006, Sambiloto (Andrographis paniculata (Burm F.) Nees), Serial Data
Terkini Tumbuhan
Obat, Badan Pengawas Obat dan Makanan, Jakarta.
6. Kardono, L.B.S., N. Artanti, I. D. Dewiyanti, T. Basuki, K. Padmawinata, 2003, Selected Indonesian
Medicinal Plants: Monographs and Descriptions, Gramedia
Widiasarana
Indonesia, Jakarta, 113-153.
7. Mills S, Bone K. The Essential Guide to Herbal Safety, Elsevier Churchill Livingstone, St. Louis,
2005.
8. PanossianA, Davtyan
T, Gukassyan N, Gukasova Q Mamikonyan G Garielian E, Wikman
G, 2002, Effect of Andrographolide and Kan Jang yyfixed Combination of Extract SHA-10 and Extract SHE-3 yyon Proliferation of Human Lymphocytes, Production of Cytokines and Immune Activation Markers in The
Whole Blood Cells Culture. Phytomed., 9:598-605.
9. Chung, Y. 1979. Andrographis paniculata. Handbook of Traditional Chinese Medicine, Guangzhou.
10.
Guo,
S.Y.,
D.Z. Li, W.S. Li,
A.H. Fu,
and L.F. Zhang.
1988, Study
of The Toxici1y of
Andrographolide in Rabbits. J. Beijing
Med. Univ. 5:422-28.
11. Yin, J., and L. Guo. 1993. Contemporary Traditional Chinese
Medicine, Xie Yuan, Beijing.